Di samping dalam bentuk diagram, penyajian data juga menggunakan tabel distribusi frekuensi, Bagaimana???, ayo kita pelajari lebih jelas lagi.
Distribusi frekuensi absolut dan relatif
Yang dimaksud
dengan Distribusi frekuensi absolut adalah suatu jumlah bilangan yang
menyatakan banyaknya data pada suatu kelompok tertentu. Distribusi ini disusun
berdasarkan data apa adanya, sehingga tidak menyulitkan peneliti dalam membuat
distribusi ini.
Yang dimaksud
dengan Distribusi frekuensi relatif adalah suatu jumlah persentase yang
menyatakan banyaknya data pada suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini pembuat
distribusi terlebih dahulu harus dapat menghitung persentase pada masing-masing
kelompok. Distribusi akan memberikan informasi yang lebih jelas tentang posisi
masing-masing bagian dalam keseluruhan, karena kita dapat melihat perbandingan
antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.walaupun demikian kita
masih belum memperoleh gambaran yang jelastentang penyebab adanya perbedaan
tersebut. Berikut adalah rumus mencari Distribusi frekuensi relatif:
frekuensi relatif=(frekuensi kelas)/n×100
Dibawah ini gambar tabel frekuensi relatif dan frekuensi
kumulatif:
X f fr
fk* fk**
X1 f1 f1/n*100
f1 f1+f2+...+fi+...+fk
X2 f2 f2/n*100
f1+f2 f2+...+fi+...+fk
. . .
. .
. . .
. .
. . . . .
Xi fi fi/n*100
f1+f2+...+fi fi+...+fk
. . .
. .
. . .
. .
. . .
. .
Xk fk fk/n*100
f1+f2+...+fi+...+fk fk
Contoh:
Dari soal diatas didapat frekuensi relatifnya adalah:
nilai frekuensi Frek. Relatif
37-40 2 10
41-44 5 25
45-48 7 35
49-52 5 25
53-56 1 5
total 20
Contoh lain:
Data pengukuran tinggi badan atas 100 orang. Setelah
dilakukan penyederhanaan data(tinggi badan dikelompokkan menjadi 7
kelompok/kelas), maka distribusi frekuensi absolut dan relatif dapat dikihat
pada tabel dibawah ini:
Tinggi badan(cm)
frekuensi Frek. Relatif
150-154 5 5
155-159 10 10
160-164 25 25
165-169 30 30
170-174 19 19
175-179 8 8
180-184 3 3
Total 100 100
1. Distribusi Frekuensi Tunggal
Data tunggal seringkali dinyatakan dalam bentuk daftar
bilangan, namun kadangkala dinyatakan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Tabel distribusi frekuensi tunggal merupakan cara untuk menyusun data yang
relatif sedikit. Perhatikan contoh data berikut.
5, 4, 6, 7, 8, 8, 6, 4, 8, 6, 4, 6, 6, 7, 5, 5, 3, 4, 6, 6
8, 7, 8, 7, 5, 4, 9, 10, 5, 6, 7, 6, 4, 5, 7, 7, 4, 8, 7, 6
2. Distribusi Frekuensi Bergolong
Tabel distribusi frekuensi bergolong biasa digunakan untuk
menyusun data yang memiliki kuantitas yang besar dengan mengelompokkan ke dalam
interval-interval kelas yang sama panjang. Perhatikan contoh data hasil nilai
pengerjaan tugas Matematika dari 40 siswa kelas XI berikut ini.
66 75 74 72 79 78 75 75 79 71
75 76 74 73 71 72 74 74 71 70
74 77 73 73 70 74 72 72 80 70
73 67 72 72 75 74 74 68 69 80
Apabila data di atas dibuat dengan menggunakan tabel
distribusi frekuensi tunggal, maka penyelesaiannya akan panjang sekali. Oleh
karena itu dibuat tabel distribusi frekuensi bergolong dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
a. Mengelompokkan ke dalam interval-interval kelas yang sama
panjang, misalnya 65 – 67, 68 – 70, … , 80 – 82. Data 66 masuk dalam kelompok
65 – 67.
b. Membuat turus (tally), untuk menentukan sebuah nilai
termasuk ke dalam kelas yang mana.
c. Menghitung banyaknya turus pada setiap kelas, kemudian
menuliskan banyaknya turus pada setiap kelas sebagai frekuensi data kelas
tersebut. Tulis dalam kolom frekuensi.
d. Ketiga langkah di atas direpresentasikan pada tabel
berikut ini.
Istilah-istilah yang banyak digunakan dalam pembahasan
distribusi frekuensi bergolong atau distribusi frekuensi berkelompok antara
lain sebagai berikut.
a. Interval Kelas
Tiap-tiap kelompok disebut interval kelas atau sering
disebut interval atau kelas saja. Dalam contoh sebelumnya memuat enam interval
ini.
65 – 67 → Interval kelas pertama
68 – 70 → Interval kelas kedua
71 – 73 → Interval kelas ketiga
74 – 76 → Interval kelas keempat
77 – 79 → Interval kelas kelima
80 – 82 → Interval kelas keenam
b. Batas Kelas
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas, angka 65,
68, 71, 74, 77, dan 80 merupakan batas bawah dari tiap-tiap kelas, sedangkan
angka 67, 70, 73, 76, 79, dan 82 merupakan batas atas dari tiap-tiap kelas.
c. Tepi Kelas (Batas Nyata Kelas)
Untuk mencari tepi kelas dapat dipakai rumus berikut ini.
Tepi bawah = batas bawah – 0,5
Tepi atas = batas atas + 0,5
Dari tabel di atas maka tepi bawah kelas pertama 64,5 dan
tepi atasnya 67,5, tepi bawah kelas kedua 67,5 dan tepi atasnya 70,5 dan
seterusnya.
d. Lebar kelas
Untuk mencari lebar kelas dapat dipakai rumus:
Lebar kelas = tepi atas – tepi bawah
Jadi, lebar kelas dari tabel diatas adalah 67,5 – 64,5 = 3.
e. Titik Tengah
3. Distribusi Frekuensi Kumulatif
Daftar distribusi kumulatif ada dua macam, yaitu sebagai
berikut.
a. Daftar distribusi kumulatif kurang dari (menggunakan tepi
atas).
b. Daftar distribusi kumulatif lebih dari (menggunakan tepi
bawah).
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh data berikut ini.
4. Histogram
Dari suatu data yang diperoleh dapat disusun dalam tabel
distribusi frekuensi dan disajikan dalam bentuk diagram yang disebut histogram.
Jika pada diagram batang, gambar batang-batangnya terpisah maka pada histogram
gambar batang-batangnya berimpit. Histogram dapat disajikan dari distribusi
frekuensi tunggal maupun distribusi frekuensi bergolong. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan contoh berikut ini. Data banyaknya siswa kelas XI IPA yang tidak
masuk sekolah dalam 8 hari berurutan sebagai berikut.
5. Poligon Frekuensi
Apabila pada titik-titik tengah dari histogram dihubungkan
dengan garis dan batang-batangnya
dihapus, maka akan diperoleh poligon frekuensi. Berdasarkan
contoh di atas dapat dibuat poligon frekuensinya seperti gambar berikut ini.
6. Poligon Frekuensi Kumulatif
Dari distribusi frekuensi kumulatif dapat dibuat grafik
garis yang disebut poligon frekuensi kumulatif. Jika poligon frekuensi
kumulatif dihaluskan, diperoleh kurva yang disebut kurva ogive. Untuk lebih
jelasnya, perhatikan contoh soal berikut ini.
b. Ogive naik dan ogive turun
Daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari dapat
disajikan dalam bidang Cartesius. Tepi atas (67,5; 70,5; …; 82,5) atau tepi
bawah (64,5; 67,5; …; 79,5) diletakkan pada sumbu X sedangkan frekuensi
kumulatif kurang dari atau frekuensi kumulatif lebih dari diletakkan pada sumbu
Y. Apabila titik-titik yang diperlukan dihubungkan, maka terbentuk kurva yang
disebut ogive. Ada dua macam ogive, yaitu ogive naik dan ogive turun. Ogive
naik apabila grafik disusun berdasarkan distribusi frekuensi kumulatif kurang
dari. Sedangkan ogive turun apabila berdasarkan distribusi frekuensi \kumulatif
lebih dari. Ogive naik dan ogive turun data di atas adalah sebagai berikut.
Daftar Pustaka:
- guru besar peneliti. pennsylvania state university.1992. statist non parametrik. PT Gramedia pustaka utama jakarta
- john j. clark, and margaret t. clark.1983. A statistics primer for managers. the free press
- robert g. d. stell, dan james h. torrie.1991. Prinsip dan prosedur statistika. PT Gramedia pustaka utama jakarta



Komentar
Posting Komentar